| « A CALL TO BE RADICAL: Attacking Hypocrisy. | A CALL TO BE RADICAL: LIVING THE SENT OUT LIFESTYLE » |
PANGGILAN MENJADI RADIKAL: Gaya hidup sebagai yang DIUTUS.
"Damai bagimu! Seperti Bapa telah mengutus aku, Aku juga mengutus kamu." Yesus.
Ada sesuatu yang luar biasa tentang kata DIUTUS. Banyak kali Yesus berbicara fakta bahwa Dia diutus oleh Bapa. Dia sedang mengatakan bahwa alasan paling sebenarnya Dia mengutus kita untuk pergi mengerjakan kehendak Bapa adalah bahwa karena dia juga telah diutus ke dunia untuk melakukan kehendak Bapa. Kita perlu mengambil ini sebagai gaya hidup, menginkarnasikan Amanat Agung ke dalam darah dan daging kita setiap hari.
Ada banyak pokok bahasan hari-hari ini tentang Gereja yang MENGUTUS. Saya lebih tertarik pada kehidupan DIUTUS. Ketika kita berbicara gereja kita dapat dengan mudah menunjuk kesalahan gereja dan ketidaksesuaiannya namun kita justru menarik diri kita dari kritik itu sendiri. Saya harus mengakui bahwa saya telah melakukan hal-hal yang salah di masa lalu yang telah menyinggung banyak orang lain dan untuk itu saya minta maaf. Mudah untuk menemukan kesalahan gereja tetapi sangat sulit mengakui bahwa kitalah gereja itu.
Menerima undangan Yesus untuk pergi dan menjadikan murid adalah berarti mengerti hati gereja yang sebenarnya. Maksudnya adalah mengutus gaya hidup diutus. Ketika saya berpikir tentang menjadikan murid, yang saya pikirkan adalah menjamah seluruh bagian kehidupan tanpa terkecuali pada diri seseorang.
Gaya hidup diutus adalah suatu investasi dalam kehidupan orang lain. Ini bukanlah program. Dan pastinya ini lebih dari sekedar mengatur aktivitas outreach. Menjadi orang yang diutus punya arti membangun jembatan kepada kehidupan orang lain - supaya mereka boleh mengenal Yesus dan menemukan apa artinya sungguh-sungguh menjadi hidup, makhluk hidup yang bebas. Ini adalah sikap yang mengatakan, "Aku akan menginvestasikan hidupku pada orang lain untuk Kristus dan tujuan-Nya di bumi." Artinya aku akan hidup seperti itu dalam setiap segi kehidupan setiap hari. Dibutuhkan pewahyuan bagi kita untuk mengerti kenapa kita bekerja di tempat kita bekerja sekarang, atau untuk mengetahui kenapa kita bertemu dengan orang-orang tertentu dalam pergaulan kita setiap hari. Kita ada untuk suatu tujuan untuk mengerjakan kehendak Bapa.
Untuk memberi impact pada orang-orang disekitar kita, kita harus punya mimpi. Suatu mimpi tentang seperti apa jadinya jika kita memberi impact pada hidup orang lain untuk Yesus. Setiap dari kita dapat memimpikan apa yang Tuhan mau perbuat melalui kita untuk memberi impact pada orang lain. Hal ini tidak lah populer di dunia sekarang, khususnya jika bermimpi yang besar tentang hal ini. Tetapi hanya jika kita bermimpi yang lebih besar dari mimpi kita tentang materialisme dan gaya hidup hedonisme kita, barulah kita dapat mengerjakannya. Mimpi kita haruslah sama dengan mimpi Tuhan tentang sungai yang mengalir keluar dari Bait Allah. Sungai yang mempengaruhi sekitarnya dengan kesembuhan dan pengharapan.
Tidak hanya kita perlu bermimpi, kita juga perlu keberanian untuk memindahkan mimpi kita menjadi kenyataan. Keberanian untuk mengejar mimpi kita tanpa rasa takut pada manusia, dan juga berarti berkata tidak pada tuntunan yang membawa kita jauh dari mimpi kita. Keberanian adalah kerelaan untuk mengambil resiko, menghadapi kritikan dan penolakan, dan berani untuk percaya bahwa Tuhan akan memakai kita untuk memberi impact pada orang lain. Seperti pada sungai yang mengalir dari Bait Allah, kita harus punya keberanian untuk masuk lebih dalam dan lebih jauh dari Bait Allah untuk mengalami berenang dalam sungai yang dalam ketika kaki kita tidak lagi mencapai dasar sungai. Kita perlu mengerti bahwa mimpi bukanlah hanya suatu bayangan dari otak kita tetapi adalah garis besar tujuan kita.
Yang terakhir adalah karakteriktik dari keefektifan mereka yang diutus keluar adalah kerelaan untuk terus menerus mengevaluasi diri dalam hidup dan hubungan dengan Yesus, dan dengan sesama. Kerelaan adalah ekspresi kerendahan hati. Kita sering mendapatkan kesan bahwa kerendahan hati berhubungan dengan kerohanian yang di dalam, tetapi yang pasti kerendahan hati berhubungan jelas dengan kerelaan untuk diutus belajar kembali. Kita perlu kerendahan hati untuk belajar bagaimana berhubungan dengan budaya kita dan secara efektif membagi kabar baik tentang Yesus dengan orang-orang dalam budaya itu. Kita perlu belajar kerendahan hati dari Yesus sendiri. Marilah kita memeluk gaya hidup yang diutus, selamat datang pada Pemuridan.
5 comments
wow...
tanks kak Jo
hari ini saya mendengar tentang mimpi terbesar dalam sejarah yang akan benar-benar mengguncang peradaban. kesederhanaan yang mempu menyentuh kesempurnaaan..
regards,
wahyoe
Waww...kerenn k'jo
gw dapat hal yang baru about dreams nehh..
thanks bgt ya kak...aq tunggu massage2
berikutnya...
:)
what a fresh message. nilai ini yg mempertegas kehidupan seseorang, bahwa chriatianity is talking about relationship, " HIDUP "...