PANGGILAN MENJADI RADIKAL: Gaya hidup sebagai yang DIUTUS.
August 26, 2008"Damai bagimu! Seperti Bapa telah mengutus aku, Aku juga mengutus kamu." Yesus.
Ada sesuatu yang luar biasa tentang kata DIUTUS. Banyak kali Yesus berbicara fakta bahwa Dia diutus oleh Bapa. Dia sedang mengatakan bahwa alasan paling sebenarnya Dia mengutus kita untuk pergi mengerjakan kehendak Bapa adalah bahwa karena dia juga telah diutus ke dunia untuk melakukan kehendak Bapa. Kita perlu mengambil ini sebagai gaya hidup, menginkarnasikan Amanat Agung ke dalam darah dan daging kita setiap hari.
Ada banyak pokok bahasan hari-hari ini tentang Gereja yang MENGUTUS. Saya lebih tertarik pada kehidupan DIUTUS. Ketika kita berbicara gereja kita dapat dengan mudah menunjuk kesalahan gereja dan ketidaksesuaiannya namun kita justru menarik diri kita dari kritik itu sendiri. Saya harus mengakui bahwa saya telah melakukan hal-hal yang salah di masa lalu yang telah menyinggung banyak orang lain dan untuk itu saya minta maaf. Mudah untuk menemukan kesalahan gereja tetapi sangat sulit mengakui bahwa kitalah gereja itu.
Menerima undangan Yesus untuk pergi dan menjadikan murid adalah berarti mengerti hati gereja yang sebenarnya. Maksudnya adalah mengutus gaya hidup diutus. Ketika saya berpikir tentang menjadikan murid, yang saya pikirkan adalah menjamah seluruh bagian kehidupan tanpa terkecuali pada diri seseorang.
Gaya hidup diutus adalah suatu investasi dalam kehidupan orang lain. Ini bukanlah program. Dan pastinya ini lebih dari sekedar mengatur aktivitas outreach. Menjadi orang yang diutus punya arti membangun jembatan kepada kehidupan orang lain - supaya mereka boleh mengenal Yesus dan menemukan apa artinya sungguh-sungguh menjadi hidup, makhluk hidup yang bebas. Ini adalah sikap yang mengatakan, "Aku akan menginvestasikan hidupku pada orang lain untuk Kristus dan tujuan-Nya di bumi." Artinya aku akan hidup seperti itu dalam setiap segi kehidupan setiap hari. Dibutuhkan pewahyuan bagi kita untuk mengerti kenapa kita bekerja di tempat kita bekerja sekarang, atau untuk mengetahui kenapa kita bertemu dengan orang-orang tertentu dalam pergaulan kita setiap hari. Kita ada untuk suatu tujuan untuk mengerjakan kehendak Bapa.
Untuk memberi impact pada orang-orang disekitar kita, kita harus punya mimpi. Suatu mimpi tentang seperti apa jadinya jika kita memberi impact pada hidup orang lain untuk Yesus. Setiap dari kita dapat memimpikan apa yang Tuhan mau perbuat melalui kita untuk memberi impact pada orang lain. Hal ini tidak lah populer di dunia sekarang, khususnya jika bermimpi yang besar tentang hal ini. Tetapi hanya jika kita bermimpi yang lebih besar dari mimpi kita tentang materialisme dan gaya hidup hedonisme kita, barulah kita dapat mengerjakannya. Mimpi kita haruslah sama dengan mimpi Tuhan tentang sungai yang mengalir keluar dari Bait Allah. Sungai yang mempengaruhi sekitarnya dengan kesembuhan dan pengharapan.
Tidak hanya kita perlu bermimpi, kita juga perlu keberanian untuk memindahkan mimpi kita menjadi kenyataan. Keberanian untuk mengejar mimpi kita tanpa rasa takut pada manusia, dan juga berarti berkata tidak pada tuntunan yang membawa kita jauh dari mimpi kita. Keberanian adalah kerelaan untuk mengambil resiko, menghadapi kritikan dan penolakan, dan berani untuk percaya bahwa Tuhan akan memakai kita untuk memberi impact pada orang lain. Seperti pada sungai yang mengalir dari Bait Allah, kita harus punya keberanian untuk masuk lebih dalam dan lebih jauh dari Bait Allah untuk mengalami berenang dalam sungai yang dalam ketika kaki kita tidak lagi mencapai dasar sungai. Kita perlu mengerti bahwa mimpi bukanlah hanya suatu bayangan dari otak kita tetapi adalah garis besar tujuan kita.
Yang terakhir adalah karakteriktik dari keefektifan mereka yang diutus keluar adalah kerelaan untuk terus menerus mengevaluasi diri dalam hidup dan hubungan dengan Yesus, dan dengan sesama. Kerelaan adalah ekspresi kerendahan hati. Kita sering mendapatkan kesan bahwa kerendahan hati berhubungan dengan kerohanian yang di dalam, tetapi yang pasti kerendahan hati berhubungan jelas dengan kerelaan untuk diutus belajar kembali. Kita perlu kerendahan hati untuk belajar bagaimana berhubungan dengan budaya kita dan secara efektif membagi kabar baik tentang Yesus dengan orang-orang dalam budaya itu. Kita perlu belajar kerendahan hati dari Yesus sendiri. Marilah kita memeluk gaya hidup yang diutus, selamat datang pada Pemuridan.
A CALL TO BE RADICAL: LIVING THE SENT OUT LIFESTYLE
August 26, 2008"Peace be with you! As the Father has sent me, I am sending you." Jesus.
There is something significant about the word SENT. Many times Jesus pointed out the fact that he was sent by the Father. He was saying that the very reason he command us to go to do the will of the Father was because he also was sent out to the world to do the will of the Father. We need to take this as our lifestyle, as our flesh and blood where we incarnate the great commission in our everyday living.
There is much talk these days about SENDING church. I am more interested in SENT OUT living. When we speak of the church we can easily point out the church’s faults and irrelevance but exclude ourselves from the criticism. I had to confess that I had done some silly things in the past that had offended other people and for that I have to ask for apology. It is easy to find fault with “the church” but much more difficult when we accept that we are the church.
Accepting Jesus’ invitation to “go and make disciples” gets at the heart of what church is all about. That is sent out living. When I think of making disciples I think of it in a holistic sense of being involved in every area of a persons’ life.
Sent out lifestyle is about investing in the lives of other people. It is not a program. It is certainly more than organized outreach activities. Being a sent out person means intentionally building bridges to other people – for the sake of them knowing Jesus and discovering what it means to be a fully alive, free human being. It is an attitude that says, “I will invest my life in others for the sake of Christ and his purposes on earth.” It means I will live that way in every sphere of life and every day of the week. It needs a revelation for us to understand why we are working in our work place right now, or to know why we meet certain people in our neighborhood every day. We are there for a purpose is to do the will of the Father.
To impact people around us we have to have a dream, a dream of what it will look like if we impact the lives of other people for Jesus. Each of us can dream about what God wants to do through us to impact other people. It is not popular to dream in today’s world, especially to dream big about it. But unless we have a dream greater than the dreams of materialists, cynics and hedonists around us, we will be swallowed up by their dreams. Our dream has to be the same dream with what God dreams about the river that flows out from the temple. The river that influence the surrounding world with healing and hope.
Not only do we need a dream, we also need courage to transfer that dream from our hearts to reality. Courage has to do with pursuing our dream without fear of man, but it also means saying no to opportunities that will lead us away from our dream. Courage is the willingness to take risks, face criticism and rejection, and to dare to believe God to use us to impact other people’s lives. Like in the river we need to have courage to go deeper and go far away from the temple to experience swimming in the deep river when our feet cannot reach the bottom of the river anymore. We need to understand that a dream is not only a phantom of our brain but is the outline of our destiny.
Lastly the characteristic of effective sent out people is the willingness to continually reevaluate one’s effectiveness in living and communicating Jesus to our friends and neighbors. This willingness is an expression of humility. We are often given the impression that humility has to do with inner spirituality, but surely it has to do with the willingness to be sent out learners as well. We need humility of we are to learn how to engage our culture and effectively share the good news of Jesus with people in the culture. We need to learn humility from Jesus. Let us embrace the sent out lifestyle. Welcome to discipleship.
PANGGILAN MENJADI RADIKAL:
Memikul Salib Setiap Hari
August 19, 2008
Barangsiapa mau mengikut aku, dia harus menyangkal dirinya dan memikul salibnya setiap hari dan ikut Aku. Barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, dia akan kehilangannya tetapi barangsiapa yang melepaskannya nyawanya akan menyelamatkannya. Yesus.
Dalam hidup ini ada 2 prinsip yang sangat mendasar tetapi sangat berkuasa. Bahkan dunia didasari dan dijalankan atas kedua dasar ini. Prinsip-prinsip ini adalah berserah dan hubungan. Saudara dapat selalu melihat prinsip-prinsip ini mewarnai hidup Yesus. Dalam segala sesuatu yang Dia sedang kerjakan atau telah kerjakan, saudara dapat melihat prinsip-prinsip ini dengan sangat jelas. Sampai Dia mati di kayu salib saudara masih dapat melihat prinsip-prinsip ini muncul dalam Dia. Melalui pengalaman-Nya di kayu salib kita dapat mengerti apa yang Dia maksud dengan ucapan-Nya "pikul salibmu setiap hari".
Di salib kita dapat melihat gambaran akan hubungan; hubungan vertikal dengan Tuhan dan horisontal dengan semua umat manusia. Melalui salib kita juga dapat melihat bahwa Yesus menyerahkan hidup-Nya pada dunia, menyerah sampai pada titik pengorbanan. Yesus tidaklah mati karena Dia dibunuh oleh tentara Roma tetapi dinyatakan bahwa Dia menyerahkan diri-Nya untuk kita. Yesus secara sukarela dan bebas menyerahkan diri-Nya untuk dunia.
Murid-murid Yesus Kristus tahu apa artinya menghidup salib karena mereka telah mengalami bahwa Yesus menantang mereka langsung sebelum mereka mulai mengikut Dia. Mereka telah menyerahkan segala sesuatunya untuk mengikut Yesus sehingga mereka dapat menghadapi segala sesuatu tanpa takut kehilangan segala sesuatu. Tidak ada seorang pun yang dapat mengambil sesuatu dari apa yang telah engkau sudah berikan. Dengan kata lain, hidup dalam jalan salib adalah hidup penuh kemerdekaan dari segala sesuatu.
Jadi pertanyaannya adalah apakah kita mempunyai kebebasan untuk melakukan kehendal Tuhan tanpa dihalangi oleh keinginan kita sendiri atau kepentingan kita. Kebanyakan persoalan kita adalah pada awal kita mengikut Kristus sebagai pengikut-Nya kita tidak pernah ditantang untuk langsung memikul salib. Itu sebabnya kita tidak pernah belajar untuk menyerah sampai pada titik pengorbanan atau sampai pada bagaiman memelihara hubungan kita dengan kuat pada segala situasi. Salib Yesus Kristus adalah tempat kebebasan. Barangsiapa yang pernah bertemu dengannya tidak akan sama lagi. Bagaimana saudara bisa tetap tinggal sama jika saudara punya kebebasan untuk menjadi apa yang Pencipta saudara mau jadi dan juga pada saat yang sama saudara akan dapat memanifestasikan suatu gaya hidup yang mana seluruh jagad raya telah lama menantikannya.
Tantangan saya untuk saudara hari ini adalah untuk memeluk gaya hidup salib dan mulai mengerti bahwa hidup saudara akan berada pada arah yang benar. Dan dalam hal ini saudara akan mulai mengalami menyerah pada sampai pada titik pengorbanan dan memelihara hubungan dengan Tuhan dan sesama.
Selamat datang di Pemuridan.